Jumat, 24 Oktober 2014

Makalah PAI Tentang Ghibah


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusunn makalah tentang “Makalah Ghibah Menurut Pandangan Islam”.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu memahami materi-materi tentang ghibah menurut pandangan Islam. Selain sederhana, penyampaian materi dalam makalah ini sangat praktis dan mudah dipahami.
Penyusun menyadari, bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca dan guru pembimbing sangat penulis harapkan demi perbaikan dimasa mendatang.
Akhirnya penyusun berharap, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan penulis khususnya.


Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ghibah..................................................................................... 2
B.     Dalil-dalil Larangan Ghibah...................................................................... 2
C.     Macam-macam Ghibah.............................................................................. 3
BAB III PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................ 4
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
” Lidah tak bertulang ”. Mungkin ungkapan tadi tidak berlebihan jika kita lihat realita yang ada sekarang. Anggota tubuh sekecil lidah dan tampak lemah ituternyata mampu menyakiti hati serta memberinya bekas yang dalam. Kadangorang tidak menyadari saat dia berbicara ternyata telah menyakiti hati orang lain. Baik pria ataupun wanita pasti pernah melakukannya baik sengaja ataupun tidak sengaja, namun yang paling sering melakukannya adalah kaum wanita. Perlu diketahui bahwa lidah bisa menjadi sebab seseorang masuk surgaataupun masuk neraka, karena tidak ada satu pun kata yang kita ucapkan kecualiada malaikat yang menulisnya.
Mungkin di dunia kita bisa mengingkarinyanamun di akhirat nanti mulut akan dikunci dan anggota badan lain yang berbicara.Di antara bahaya lidah yang dapat membawa kita ke neraka adalah ghibahdan namimah. Ghibah dan namimah termasuk perkara paling keji dan paling banyak menyebar di kalangan umat manusia. Hanya sedikit orang yang selamatdarinya.Karena pentingnya kita menjaga lisan dari ghibah dan namimah, makamakalah ini akan membahas segala hal yang berkaitan dengan kedua hal tersebut.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pandangan Islam tentang ghibah dan bagaiamana kita menyikapinya?
2.      Bagaimana pandangan Islam tentang namimah dan bagaiamana kitamenyikapinya?

C.      Tujuan Penulisan
1.      Mendeskripsikan pandangan Islam tentang ghibah dan cara kitamenyikapinya.
2.      Mendeskripsikan pandangan Islam tentang namimah dan cara kitamenyikapinya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Ghibah
Dalam bahasa ghibah berarti menggunjing, membicarakan kejelekandan kekurangan orang lain, di dalamnya ada satu keinginan untuk menghancurkannya. Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau “aib” saudaranya ataupun kebaikannya yang mana jika saudaranya itu tahu, dia tidak menyukainya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa jika saudaranya ada di majelis itu, juga disebut dengan ghibah. Jadi tidak hanya menceritakan kejelekan saudaranya saja disebut ghibah, tapi juga kebaikannya jika orang yang dibicarakan tersebut tidak menyukainya.

B.       Dalil-dalil Larangan Ghibah
Firman Allah SWT surat Al-Hujurat ayat 12:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& Ÿ@à2ù'tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

”Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim :“Tahukah kalian apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab, Allah dan Rasul- Nyayang lebih tahu!" Lalu beliau berkata, “Yaitu kamu menceritakan saudaramu tentang hal yang tidak disukainya." Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana  pendapatmu bila apa yangaku ceritakan ada pada diri saudaraku?" Beliau menjawab, Bila apa yang kamu ceritakan itu ada pada diri saudaramu, makakamu telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan bila tidak, berarti kamumengada-ada (dusta)."
C.      Macam-macam Ghibah
Ghibah adalah menceritakan tentang sesuatu yang dibenci oleh seseorang untuk diceritakan, baik berkaitan dengan bentuk fisik, agama,dunia, kejiwaan, budi pekerti, harta, anak, suami, istri, pembantu, pelayan, pakaian, cara berjalan, cara bergerak, senyuman, kecemberutan, dan lainsebagainya. Apakah Anda menceritakannya lewat lisan, tulisan, atausekadar isyarat dengan mata, tangan, kepala, dan sejenisnya.
Berkaitan dengan fisik, seperti kata-kata Anda: buta, pincang, pincang sebelah, botak, pendek, tinggi, hitam, kuning, dan seterusnya.Berkaitan dengan agama seperti kata-kata Anda: pendosa, pencuri, khianat,zhalim, meremehkan shalat, meremehkan najis, tidak berbakti kepadaorangtua, tidak meletakkan zakat pada tempatnya, tidak menjauhi ghibah,dan lainnya.Dalam hal dunia seseorang seperti kata-kata Anda: kurang ajar,meremehkan orang lain, meremehkan hak orang lain, banyak omong, banyak makan, banyak tidur, tidur tidak pada waktu-nya, duduk tidak padatempatnya. Pada hal-hal yang berkaitan dengan orangtuanya, seperti kata-kata Anda: bapaknya adalah pendosa, bapaknya orang India, orang kulithitam, pekerja kasar, tukang jahit, pedagang budak, tukang kayu, tukang las,tukang tenun, dan seterusnya.Pada budi pekerti seperti Anda katakan: akhlaknya buruk, sombong,suka cari perhatian, suka bikin malu, bengis, lemah, penakut, suka ngawur,angkuh, dan seterusnya. Berkaitan dengan pakaian, seperti kata-kata Anda:lebar lobang tangannya, panjang buntut pakaiannya, kotor pakaiannya, danseterusnya. Pokoknya yang menjadi pedoman adalah menceritakan tentangkeadaan orang lain yang keadaan tersebut tidak dia sukai. Imam Abu Hamidal-Ghazali telah menukil kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahwaghibah adalah apabila Anda menceritakan tentang orang lain dengan ceritayang tidak disukainya.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Dari keterangan al-Qur’an dan hadits Nabi di atas jelaslah bahwa ghibah merupakan perbuatan tercela yang harus dihindari oleh muslim karena akan mengakibatkan perselisihan dikalangan masyarakat. Ghibah akan mendatangkan banyak mudharat, diantaranya perselisishan, permusuhan, dendam, perceraian dan bahkan bisa saja terjadi pembunuhan. Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin mencegah hal-hal tersebut, dan mengecam bagi yang melakukan perbuatan tersebut akan mendapatkan siksaan Allah.

            Ghibah dapat dicegah dengan slalu mengingat bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, ingat akan aib diri sendiri, dan tidak iri dengan keberhasilah saudaranya serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Adapun ghibah yang dibebaskan atau ditolerir adalah ghibah dalam hal amr ma’ruf nahi munkar, dalam rangka menegakkan kebenaran, dalam hal ini termasuk berita tentang kasus suap (korupsi).

            Melihat realita masyarakat dewasa ini ghibah seakan dianggap sepele karena masyarakat slalu disuguhi dengan berita-berita selebriti dari pagi hingga siang, terkadang sangat berlebihan dan tidak proporsional. Ini akan menimbulkan berbagai problem dalam masyarakat. Namun tidak semuanya gossip tersebut mengandung unsure ghibah seperti penjelasan hadits Nabi diatas.



DAFTAR PUSTAKA

CD Room Kutub Tis’ah

al-Ghazali, Imam.  Bahaya Lisan dan Cara Mengatasinya,terj. A. Hufaf Ibry. Surabaya: Tiga Dua. 1995.

An-Nawawi, al-Adzkar, terj. M. Tarsi Hawi. Bandung: Pustaka Ma’arif. 1984.

Abullah bin Jarullah, Awas Bahaya Lidah, terj. Abu Haidar dan Abu Fahmi. Jakarta: Gema Insani Press. 2004.

                   Ibnu Qudamah, Jalan Orang-Orang yang Dapat Petunjuk, terj. Kathur Suhardi. cet XIII. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2007. 

Taimiyah dkk, Ghibah, terj. Abu Azzam. Jakarta: Pustaka Kautsar. 1992.

Suhaimi, Muhammad Yasin. Bahaya Lisan Menurut al-Qur’an dan Sunnah. Malang: UMM Press. t.th

0 komentar:

Posting Komentar